Joget viral anak² sekolah yang membuat generasi menjadi hancur

 

1. Dari Segi Budaya

  • Budaya lokal dan tradisi dapat semakin kurang diminati jika generasi muda lebih fokus mengikuti tren yang datang silih berganti.

  • Sebagian konten lebih menonjolkan sensasi daripada nilai budaya, pendidikan, atau kreativitas.

  • Namun, tidak semua joget TikTok buruk; ada juga yang digunakan untuk mengenalkan budaya daerah dan seni tari.

2. Dari Segi Psikologi

  • Dapat menimbulkan kecanduan media sosial karena mengejar likes, views, dan komentar.

  • Sebagian siswa bisa kehilangan fokus belajar karena terlalu banyak waktu digunakan untuk membuat atau menonton konten.

  • Ada risiko menurunnya rasa percaya diri jika membandingkan diri dengan kreator lain yang lebih populer.

3. Dari Segi Sosial

  • Muncul tekanan untuk ikut tren agar tidak dianggap ketinggalan oleh teman-teman.

  • Interaksi langsung dengan keluarga atau teman bisa berkurang jika terlalu sering menggunakan media sosial.

  • Di sisi lain, TikTok juga dapat menjadi sarana pertemanan dan kerja sama jika digunakan secara positif.

4. Dari Segi Agama

  • Dalam Islam, suatu aktivitas dinilai dari manfaat dan mudaratnya. Jika joget dilakukan dengan cara yang melanggar norma kesopanan, membuka aurat, atau melalaikan kewajiban seperti salat dan belajar, maka hal tersebut tidak dianjurkan.

  • Jika kontennya sopan, tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain, dan tidak melalaikan kewajiban, penilaiannya bisa berbeda.

Pendapat saya:
Masalah utamanya bukan pada TikTok atau jogetnya, melainkan pada penggunaan yang berlebihan dan tanpa tujuan. Jika seorang siswa lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengejar tren daripada belajar, mengembangkan keterampilan, atau beribadah, maka itu dapat menghambat perkembangan diri. Sebaliknya, media sosial juga bisa menjadi sarana kreativitas, edukasi, dan dakwah jika digunakan secara bijak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZULKIPLI

ZULKIPLI

Masalah orientasi nilai